Multibagger Portfolio Tanpa Saham Konglo


Saat ini, holder saham-saham konglo sedang tersenyum lebar. Emiten-emiten milik Prajogo Pangestu , Hasyim, Happy Hapsoro, Anthony Salim maupun Bakrie Group pada bertebangan. Holder PTRO ytd +278% , holder BUMI ytd +220% bahkan holder BUVA ytd mencapai 2540% !!





Namun, jarang sekali investor yang memegang saham-saham konglo ini mempunyai conviction sejak awal tahun dihold terus hingga saat ini, kebanyakan mempunyai mental trader sehingga cuan yang didapatkan pun belum tentu bisa maksimal.


Lantas, jika saham-saham konglo bisa memberikan return seperti itu, apakah kita harus update dan ikut-ikutan invest di saham konglo ?

Saat ini, para fund manager pun kalau teman-teman perhatikan portfolionya sudah terisi juga saham-saham konglo macam PANI , SSIA , BUMI atau EMAS.


Tapi teman-teman harus selalu ingat, ada 1 golden rule yang sudah ada sejak ribuan tahun dan masih relevan saat ini, apa itu ? The One Who Know Himself And His Enemy Will Win Hundred Of Battles ~ Sun Tzu.


Artinya kurang lebih : Orang yang memahami dirinya sendiri dan memahami lawannya akan memenangkan ratusan peperangan. Jadi, kalau style yang kita kuasai adalah value investing, kemudian kita beralih menjadi seorang spekulan saham konglo (di mana ini di luar circle of competence kita), maka most likely keberhasilan kita belum tentu sebesar orang-orang yang memang spesialis di saham-saham konglo.


Ingat, 1 saham yang sama bisa memberikan hasil yang berbeda ke tiap-tiap investor. Ada yang mungkin bisa CUAN di saham PANI walau harganya ambles ke 11.000an, ada juga yg menderita LOSS di saham PANI walaupun ketika itu harganya 15rban karena dia belinya di pucuk harum 19rban.


Arvest sendiri selalu stick untuk berinvestasi menggunakan metode value investing, yang artinya saham-saham yang dibeli murni dilihat kinerja maupun valuasinya. Hingga artikel ini dibuat (tanggal 23 Desember 2025), portfolio pertama Arvest yang dibuat pada Januari 2024 dengan modal 2,5M telah bertumbuh menjadi 5,8M (Growth 130% atau setara CAGR 52%).




Pada portfolio Arvest tidak ada 1 pun saham konglo di dalamnya dan ternyata kinerjanya juga cukup baik. Kebanyakan yang saya temui, para pemain saham yang dananya sudah Milyaran dan memegang saham konglo ternyata growth portonya kebanyakan masih di bawah 100% (karena mereka tidak memiliki conviction untuk hold saham konglo dan memilih untuk mentradingkannya).


Hal ini sangat wajar, karena kita sendiri pasti bingung untuk menentukan kapan saham konglo ini dikatakan MURAH atau dikatakan sudah MAHAL. Ilmu matematika manapun sudah tidak bisa dipakai untuk menghitung valuasi saham-saham konglo yang PE nya bisa ratusan atau ribuan kali.


Jadi, Arvest mengencourage teman-teman yang memang sudah memiliki mindset sebagai seorang value investor untuk tetap stick dengan metode ini, jangan terombang ambing untuk mudah beralih aliran, kalau sampai terjadi pembalikan arah di saham konglo, emiten yang memiliki PE ratusan atau ribuan ini bisa turun terjun bebas dan membuat teman-teman “gantung keyboard” dari dunia investasi saham.


Kalau ada orang yang jago saham menggunakan jurus bandarmology / konglomology, itu bagus.

Kalau ada orang yang jago saham menggunakan jurus teknikal, itu bagus.

Kalau ada orang yang jago saham menggunakan jurus value investing, itu bagus.

Kalau ada orang yang merasa dirinya bisa menggunakan jurus value investing dicampur dengan jurus bandarmology dicampur dengan jurus teknikal, itu biasanya berakhir buruk.


Sharing 2 Tahun Mempelajari Saham Corporate Action


Saya merasa beruntung memiliki partner di Arvest yang sangat memahami ilmu value investing, di mana kebanyakan value investor ini masih pemahamannya sebatas PE dan PBV rendah dalam membeli saham dan merasa mereka sudah seorang value investor.


Ketika saya berpartner dalam bisnis apapun, saya menaruh kepercayaan penuh terhadap rekan saya dan oleh karena itu, saya juga memiliki waktu yang cukup untuk mengeksplore metode investasi saham yang saya pandang cukup menarik, yaitu Corporate Action.


Di bawah saya akan memberikan studi kasus emiten-emiten corporate action yang saya pelajari, namun sebelumnya saya akan membagikan dulu beberapa portfolio yang memang saya khususkan untuk investasi menggunakan metode corporate action di tahun 2025 ini.


Yang pertama adalah portfolio istri saya sendiri, di mana tahun 2025 awal ini saldonya diisi sekitar 200jtan, dan kinerjanya hingga saat ini sekitar 92% (profit 207jt-an).



Yang kedua adalah portfolio anak kedua saya yang lahir di tahun 2025 ini, saldonya saya isi sekitar 10jtan dan bertumbuh menjadi sekitar 40jt saat ini (angka return stockbit kurang tepat, seharusnya +300%an).



Dalam membuat portfolio keluarga, saya sendiri membuatkan account khusus untuk tiap-tiap orang (saya pribadi mempunyai 3 account, istri saya 1 account, anak pertama saya 1 account dan anak kedua saya 1 account).


Untuk portfolio saya dan anak pertama saya tidak saya tampilkan karena strateginya murni menggunakan value investing dan hasilnya kurang lebih sama dengan portfolio Arvest (karena sahamnya juga kurang lebih sama).


Oke sekarang saya akan membahas studi kasus beberapa emiten corporate action yang saya pelajari dalam setahun belakangan ini :


1.      BKSL (Sentul City)

Emiten BKSL ini pada tahun 2023 melakukan corp action penambahan modal (Right Issue) yang menurut saya saat itu sangat menarik. Mengapa ? Yang pertama, BKSL sendiri adalah emiten yang memiliki landbank terbesar yaitu sekitar 15.000 ha dan saat itu valuasi ekuitas dari BKSL sendiri dihargai di PBV 0,3x.


Dalam bisnis properti, salah 1 trik untuk financial enginering adalah dari pencatatan harga perolehan tanah, di mana saya mengecek BKSL mencatatkan rata-rata perolehan tanah di Bogor (Sukadamai, Sukaresmi, Sukajaya, dll) sekitar 340rb / m2. Sedangkan harga jual tanah BKSL kalau kita cari di Mbah Google, berkisar 3jt-an ke atas. Jadi saya beranggapan bahwa PBV 0,3x ini adalah angka real dan bisa dikatakan relatif murah saat itu.

 

Eitss, ini bukan berarti kita langsung bisa membeli emiten BKSL walaupun valuasinya murah. Kenapa ? Faktor TERPENTING dari emiten properti yang bergerak sebagai developer adalah, Bagaimana rencana emiten MENGEMBANGKAN Landbank yang dimiliki ? KAPAN ?  Nahhh, jika developer punya landbank gede, tp ga digarap-garap ya sama saja boong. Faktor kedua inilah yang membuat saya membeli saham BKSL saat itu.


Ketika BKSL mengumumkan mau right issue, harga saham BKSL sempat bergejolak. Saham BKSL yang tidur di 50 mencoba naik terus ke 51 52 53 namun pada akhirnya selalu ditekan jual kembali tidur di 50.


Bahkan saya masih ingat, ketika hari Cum Date pun saham BKSL sempat dimakan offer di 50 habis dan naik ke 51 tapi TIBA-TIBA diguyur lot jumbo kembali ke harga 50. Ada apa ini ? Perlu diketahui, standby buyer dari Right Issue BKSL ini adalah PSPnya sendiri dengan komando dari Ibu Stella Isabella Djohan.


Harga tebus Right issue BKSL saat itu di harga 50. Kalau saham induk BKSL saat itu naik di atas 50, tentu retail-retail akan dengan senang hati menebus saham BKSL. Namun, kejadiannya saham BKSL ditahan di harga 50, bahkan sesudah cum date, saham BKSL sempat rontok dan menuju level 30-an !! (Saat itu saya beli di harga 50).


Hal ini membuat saya berfikir bahwa Right Issue BKSL sendiri sepertinya INGIN DIMAKAN SENDIRI oleh si PSP dan cara 1 1 nya supaya retail tidak menebus adalah dengan MENJAGA HARGA SAHAM BKSL di bawah harga tebusnya. Walaupun demikian, saat itu saya tidak punya nyali untuk Average down saham BKSL ketika ambles ke titik terendahnya padahal saya sudah meyakini bahwa emiten punya kepentingan terhadap saham ini.

 

Pada awal 2025, saham BKSL naik ke level 90an dan ketika itu sudah muncul begitu banyak berita di media, mulai dari pembelian lahan oleh Genting Group, Danantara dikabarkan mau masuk juga, dan karena sudah santer beritanya, maka saya melepas saham BKSL ini di harga 90an. Saya pun tidak menyangka karena saham BKSL masih bisa terus naik sampai tertingginya di 190an. 1 Hal yang pasti, saya tidak menyukai jika berita tentang emiten sudah gembar gembor ke publik dan saat itu di harga 90, PBV dari BKSL sendiri sudah ada di PBV 1x dan nilai ini sudah tidak saya anggap murah karena peers industri di bawah 1x.

 

2.      OKAS (Ancora Indonesia)

Penjelasan tentang emiten ini pernah saya bahas di artikel ini https://arvest.co.id/article/show/138 (Silahkan baca dulu ya kalau teman-teman belum sempat membaca).


Satu pengalaman berharga yang bisa teman-teman pelajari di sini adalah, kalau suatu emiten sudah tidak sesuai dengan TESIS yang kita buat, JANGAN RAGU-RAGU untuk buang barang ! Telat 1 hari saja dalam menjual saham OKAS bisa menyebabkan saya kena ARB beruntun. Bad news muncul di tanggal 16 September 2025 pukul 6 sore, keesokan harinya tgl 17 September 2025 saya membuang saham OKAS di harga ARB opening (300), sesudah itu OKAS ARB beruntun dan sekarang tinggal 160an.



3.      ANJT (Austindo Nusantara)

Emiten ANJT ini memberikan 2x hit bagi saya, yang pertama melalui proses Tender Offer di mana ini adalah Corporate Action yg Guaranteed Win bagi investor yang memahami cara kerjanya, di mana saya ikut TO sebesar 1M di ANJT (pernah saya bahas di artikel ini https://arvest.co.id/article/show/134 )

 

Sesudah ikut TO ANJT, ada 1 hal yang mengganjal bagi saya, harga TO ANJT ada di 1813 dan harga saham ANJT saat Cum Date DITAHAN di level 1810. Artinya apa bang Messi ? Standby buyer berharap pasukan retail untuk ikut TO ANJT sehingga barangnya bisa dibersihkan oleh First Resources Group. Kalau ini terjadi, maka First Resources akan menguasai saham hampir seluruh saham ANJT (kepemilikan menjadi sekitar 96% !).


Dasar yang menguatkan saya untuk berani berspekulasi di ANJT paska Tender Offer adalah, karakter dari si bos baru sendiri, di mana Fangiono Group ini sendiri sudah memiliki emiten Tbk di bursa yaitu FAP Agri Tbk dengan kode saham FAPA. Emiten FAPA sendiri sangat kering, kepemilikan sahamnya hanya 350 orang saja, dan PSPnya terlihat sangat menjaga dan memiliki kepentingan di sahamnya. FAPA yang pada tahun 2022 harganya sekitar 4000 di valuasi premium PE 21x, di tahun 2025 harga sahamnya masih terjaga di 6000an dengan valuasi PE 23x.

 

Ini menandakan Fangiono Group ini akan mempertahankan harga saham dari emiten corenya. Akhirnya saya memutuskan untuk membeli kembali saham ANJT di harga 1805 dan benar saja sesudah TO selesai sesi 1, sesi 2 nya saham ANJT ARA dan keesokan harinya juga kembali ARA. Saya menjualnya lagi di harga 2680 di valuasi PE 16x (di mana ini valuasi premium karena rata-rata emiten sawit lainnya di valuasi PE 8-9x).

 

4.      IMJS (Indomobil Multi Jasa)

Big boss Anthony Salim melalui perusahaan multi financenya IMJS tahun ini melakukan Right Issue di harga 230. Kalau dilihat dari karakter emiten IMJS sendiri, emiten ini sudah beberapa kali melakukan right issue di tahun 2017, 2019 dan 2020. Kalau teman-teman perhatikan Right Issue IMJS SELALU SUKSES, di mana diikuti dengan pergerakan sahamnya.


Tahun 2017 Right Issue di Desember dan sahamnya naik 200%, tahun 2019 Right Issue di Januari dan sahamnya naik 30% serta terakhir di 2020 Right Issue di Agustus dan sahamnya naik 150%.


Tentu Right Issue tahun 2025 ini sudah saya tunggu-tunggu.  Kalau kita baca di prospektus Right Issue IMJS tahun 2025 ini, akan digunakan untuk penambahan modal di PT CSM Corporatama yang merupakan perusahaan rental dedengkot milik Salim Group. Apa sih bisnis dari IMJS sendiri ?

 

Bisnis IMJS sendiri ada 2 corenya, yang pertama dari Rental mobil melalui Indorent dan Indopenske (untuk rental kendaraan komersial). Yang kedua dari jasa keuangan melalui Indomobil Finance untuk segala jenis kredit dan pembiayaan. Fokus bisnis IMJS sendiri 99% ada di pulau Jawa.

 

Didukung dengan ekosistem penuh dari Indomobil, mulai dari manufaktur kendaraan & sparepart, 300 dealer yang tersebar di seluruh Indonesia dengan berbagai brand dan terakhir di bidang jasa keuangan maupun rentalnya.

 

Pertumbuhan revenue rata-rata dari IMJS sendiri adalah sekitar 7% dalam 5 tahun terakhir.

Di Q3 2025 ini, sebenarnya kinerja dari IMJS biasa-biasa saja. Revenuenya growth 4% YoY sementara laba bersih terkoreksi menjadi 30M di mana tahun sebelumnya sebesar 34M. Faktor yang memberatkan ada di peningkatan gaji karyawan sebesar 60M dibanding Q3 2024 serta penyisihan nilai piutang yang naik sebesar 50M. Namun kenaikan penyisihan ini menunjukkan manajemen yang sangat hati-hati dalam antisipasi resiko, ini juga bisa dilihat dari pendapatan atas piutang yang dihapus naik sebesar 60M-an (piutang yang sebelumnya dihapus ternyata dibayar oleh customernya).

 

Saham IMJS yang awalnya anteng-anteng di harga 230an menjelang Right Issue melejit hingga level 490.

 

Another side story…

 

Pada tanggal 18 September 2025, saya diundang di suatu acara yang diadakan di Voza Tower Surabaya  dengan pembicaranya adalah pak Anthony Utomo dari Utomo Group. Kalau teman-teman sering melihat charging station berwarna hijau untuk mobil EV yang biasanya ada di kompleks ruko atau di parkiran resto, ya itu adalah charging EV station dengan merk Utomo Charge+ dari Utomo Group. Apa hubungannya dengan IMJS ko ?

 

Ternyata , Utomo Group sendiri juga bertindak sebagai salah satu distributor dari mobil EV niaga dengan brand JAC. Pak Anthony mengatakan, potensi EV Car di Indonesia ini sangat besar dan perusahaan mereka berfokus mengembangkan ke industri yang berhubungan dengan EV. Indomobil sendiri adalah ATPM (Agen Tunggal Pemegang Merk) dari JAC, di samping itu mereka juga memegang brand Foton.

 

Saat itu, pak Anthony menjelaskan bahwa ke depan, kendaraan-kendaraan Niaga kemungkinan akan beralih ke EV. Mengapa ? Karena ada 2 hal utama, yang pertama efisiensi dari bahan bakar yang diclaim mencapai 40%, yang kedua karena teknologi EV sendiri membuat “kebocoran” dari sopir-sopir nakal akan tereliminasi. Biasanya, sopir2 truk ini bermain di sparepart ataupun solarnya.

 

Ketika dipaparkan seperti itu, ada pemilik kebun sawit yang bertanya kepada pak Anthony, apakah bisa truk-truk sawit yang medannya ekstrim ini bisa diganti dengan EV JAC ? Apa kuat truknya ? Bagaimana dengan sparepartnya ?

 

Nah di sini pak Anthony menjelaskan, bahwa di China sendiri sudah jarang sekali kendaraan niaga yang masih fosil based, kebanyakan sudah EV. Untuk masalah medan, beliau berkata bahwa Indomobil Group BERANI memberikan TRIAL untuk truk EV mereka dicoba di perkebunan sawit customer. Jika dirasa mumpuni, baru silahkan ganti truk-nya dari konvensional menjadi EV.


Jawaban ini membuat kaget si pemilik kebun sawit dan terlihat beliau sangat antusias atas keberanian dari Indomobil Group.

 

Apakah penetrasi kendaraan EV niaga ini akan berhasil ? Mengingat tahun depan dikabarkan subsidi untuk EV juga akan dicabut.


Last But Not Least..


Sebenarnya, masih ada beberapa studi kasus emiten-emiten corporate action lainnya yang bisa saya bahas, bahkan ada yang gagal contohnya di emiten MLBI di mana saya menderita kerugian, kemudian saya kehilangan kesempatan di emiten KETR & INET padahal di LK-nya KETR sudah ada indikasi jelas corp action INET sejak Q2 2025.


Namun karena mata saya sudah tinggal 5 watt dan jam sudah menunjukkan pukul 12 malam lewat, saya sudahi dulu artikel di penghujung tahun 2025 ini.


Untuk info teman-teman, hingga saat ini, saya dan partner saya Christian sepakat untuk TIDAK memasukkan saham-saham corporate action ke portfolio Arvest karena kami merasa masih terlalu dini dan perlu evaluasi lebih lanjut.


Semoga artikel ini dapat berguna bagi teman-teman dan semoga di penghujung tahun 2025 ini, teman-teman sehat selalu, portfolionya terus bertumbuh, Merry early Christmas bagi yang merayakan dan semoga di tahun 2026 nanti kita semua makin diberkati.


Terima kasih untuk semua yang setia mendukung Arvest. Keep learning and be phenomenal everyday..